13/10/10

Dompet untuk Mama


Satu persatu lampu mulai dipadamkan, namun hanya tinggal ruanganku saja yang masih terlihat terang. Hari ini ingin sekali pulang cepat, cukup 8 jam saja hari ini aku berada di kantor. Tiba-tiba timbul niatku, ingin mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan dekat rumahku, hanya untuk membeli sebuah dompet HP untukku dan untuk mama.


Kutengok jam dinding, jam sudah menunjukkan Pk. 17.20.

“Arrghhh!” pekikku dalam batin. Cepat sekali waktu berlalu, padahal kerjaan belum semuanya kuselesaikan. Kupadamkan lampu, dan kubereskan semua dokumen-dokumen di atas mejaku. Hari esok masih bisa kuselesaikan pikirku.


Kulangkahkan kaki keluar dari kantor, “Saya balik dulu ya, pak “ pamitku pada salah seorang rekan kerjaku " Sampai ketemu besok.”


“Iya, sampai ketemu besok, hati-hati di jalan,” balasnya, sekilas melihat ke arahku sambil masih sibuk menyelesaikan kerjaannya yang masih bertumpuk.


Akhirnya sampailah aku di pusat perbelanjaan tersebut, sambil terus berjalan, kulayangkan pandanganku pada toko-toko sekitar, Pada salah satu toko terbesar, aku masuk dan melihat-lihat. Kutemukan sebuah dompet yang manis, harganya juga tidak terlalu mahal, hanya Rp 10.000,-


Pada salah seorang staff toko, aku serahkan dompet tersebut. “Saya beli yang ini saja, mba” sambil kukeluarkan uang Rp 50.000,-


“Ga ada uang pas saja, mba ? harganya cuma Rp 3.000,-"


“Hah?” tanyaku heran. “Bukankah disitu tertulis Rp 10.000,- ?”


“Sedang ada diskon 70%,” jawabnya sambil memasukkan dompet yang kubeli ke dalam kantong plastik.


“Oh ok,” kukeluarkan uang pas Rp 3.000.- dan membayarnya. Masih cukup kaget aku dibuatnya.


Kulangkahkan kakiku keluar dari toko tersebut. Hari ini pekerjaanku cukup banyak ditambah semalam aku baru bisa tidur ketika hampir pagi, maka lebih baik aku pulang saja, pikirku. Lelah membuatku enggan untuk berkeliling mengunjungi toko-toko lainnya, padahal aku belum menemukan dompet HP untuk diriku sendiri.


Selama kurang lebih dua jam aku berjalan kaki, dari kantorku kemudian mengelilingi pusat perbelanjaan tersebut sampai akhirnya aku tiba di rumah kembali, rasanya ingin sudah seperti agar-agar kaki ini, ditambah hari ini aku memakai high heels. Selama perjalanan pulang, aku tertawa kecil dalam hati. “Apa yang sedang kukerjakan? benar-benar seperti kurang kerjaan” tanyaku dalam hati.


Dompet kuberikan pada mamaku, dan senyum kecil mengembang di bibirnya.

“Sekarang mama sudah punya HP lho,” sambil menunjukkan HP yang baru saja kemarin kubeli untuknya “Jadi ini juga dompetnya buat mama khan,” katanya polos. Meski usianya sudah setengah abad, tapi sisi kekanakannya kadang lebih sering muncul melalui kata-katanya.


“Iya,” jawabku. Lalu ku melangkah masuk ke kamar, merebahkan diri melepas lelah.



~Sepenggal kisah kecil dihari ini, yang melelahkan sekaligus membuat bahagia.

Dan akupun mulai belajar sedikit demi sedikit, bahagia dimulai ketika membuat seseorang yang dicintai bahagia. Ya, dan itu bisa dimulai dari lingkungan yang paling kecil bagian dari hidupmu, yaitu keluarga.

“Thanks God, kiranya hari esok berikanlah lagi aku satu kisah sederhana dan bermakna dalam hidupku, agar aku kian mengerti akan arti hidupku” doa singkatku dalam hati kecilku.~



By : kn14


1 komentar:

  1. Ya, membahagiakan orang orang disekitar kita apalagi keluarga membuat kepenatan yang ada dibahu kita seperti hilang bersama angin...kita akan bahagia bila bisa membuat orang lain bahagia..itu juga yang aku rasakan. well...congrats for your mom./she got new HP...hehehe....

    BalasHapus