23/09/10

Tembang Jiwa nan Sunyi


Selamat malam, cintaku……

Hari semakin larut dan sepi

Yang terdengar hanyalah suara alam tengah berbisik

Meski kualunkan senandung lagu-lagu cinta nan merdu

Namun tetap saja bagai tembang sunyi di telingaku

Yang menyayat dan membekukan jiwaku


Biarlah malam menjadi saksi bisu kerinduanku padamu

Pada hangatnya sikap dan hadirmu disisiku

Pada indah dan manisnya senyumanmu

Mengapa harus ada harap bila asa tak mampu kugenggam

Kemanapun arah langkahku, bayanganmu selalu mengikuti


Hanya pada selembar gambar dirimu, rasa rinduku berlabuh

Potret wajah nan rupawan, tersenyum sedang menatapku

Akh, ….Seandainya aja gambaran itu nyata di hadapanku

Ingin rasanya kupeluk erat dan kubisikkan sepenggal kalimat

Selamat malam, cintaku…....Aku sungguh merindukanmu

21/09/10

Gerimis dikala Senja




“Jadi datang ke sini hari ini?” sebuah pesan baru saja kuterima dari ponselku. Padahal baru saja kupejamkan mataku. Gerimis di sore-sore begini makin memperparah rasa kantuk yang memang sudah kutahan dari siang tadi di kantor.

“Maaf, Kak, kayaknya aku nggak jadi datang kesana, sedang hujan di sini,” sebuah jawaban sekaligus alasan yang kuberikan demi memuaskan hasratku untuk melanjutkan kembali tidurku.

“Hmmm, maaf ya,….Kakak nggak punya mobil untuk jemput kamu, cuma ada motor nih”

Nggak usah, Kak, aku naik taksi aja kalau begitu,” balasku. Untuk apa, pikirku. Tetap saja aku akan kehujanan kalau naik motor.

“Arrrgghhhh….!” batinku menggerutu. Benar-benar nggak mau menyerah, dan membuatku makin merasa tidak enak hati saja.

Rasa kantukku sekejap lenyap, berganti dengan rasa kesal. Dengan langkah gontai, dan setengah hati, akupun bersiap-siap. Akhirnya aku memanggil taksi dan pergi menemuinya.

Itulah pertemuan pertamaku dengannya. Dari seorang teman yang memperkenalkanku dengannya, ketika aku baru pertama kali menginjakkan kaki di kota Manado, aku mengenal dirinya. Sejak itu, ada sebuah perasaan tanpa nama mengalir hangat dalam relung hatiku. Sosoknya memiliki kharisma yang tak dapat kutolak pesonanya.

Kekaguman tanpa batas merubah perasaan tanpa namaku menjadi sebuah “CINTA”. Tanpa kusadari, aku pun mulai terbiasa dengan keberadaannya di sisiku menemani hari-hariku. Perhatian dan rasa sayang darinya, makin membuat jiwaku melekat pada sosok indah dirinya. Kala senja tiba, ketika jam kerja tlah usai adalah waktuku bersama dengannya. Meski hanya untuk sekadar bercanda, bercerita tentang indahnya hari, atau penatnya kesibukan kerja. Sungguh merupakan saat-saat terbaik yang pernah kumiliki bersamanya.

Namun sang waktu berjalan sangat cepat, tanpa terasa masa dinasku selama 1 tahun akan segera berakhir.

“Besok aku harus kembali ke Jakarta, Kak”

“Jam berapa? Secepat itukah?” tanyanya dengan nada yang terdengar berat. “Kapan kamu akan kembali ke sini lagi?”

“Jam 4 sore, entahlah Kak, aku juga nggak tahu….., tapi setiap kali ada kesempatan atau hari libur, aku pasti akan datang lagi ke sini,” janjiku padanya.

“Apa kita bisa berhubungan jarak jauh?"

“Menurut Kakak…? aku juga nggak mau berpisah dengan Kakak seperti ini,” sambil kulingkarkan tanganku dipinggangnya, kubenamkan kepalaku di dadanya. Terasa hangat dan begitu nyaman.

“Baiklah kalau begitu, kita nggak akan berpisah dengan cara seperti ini,” jawaban darinya terasa begitu menyejukkan batinku.

Namun kesedihan tetap saja tergurat jelas di wajahnya. Dan dia hanya diam, malam terasa begitu hening. Seperti saat kita bertemu, gerimis pun seakan mengiringi perpisahan kita. Tak ada lagi kata yang terucap selama perjalanan pulang.

Mataku sembab, sehabis menangis semalam. Jam kini sudah menunjukkan pukul dua siang. Waktunya aku untuk segera bersiap-siap ke bandara. Di teras, dengan penuh harap aku menunggu. Sesungguhnya, betapa hati ini ingin sekali melihatnya datang untuk mengantarku. Namun entah kenapa, sama sekali tidak ada kabar darinya hari ini.

“Ya sudahlah,” pikirku. Mungkin memang saat ini dia sedang sibuk. Meski hati terasa begitu sedih, dan tanpa terasa airmataku pun kembali menetes.

Beberapa bulan pertama sejak kembali ke Jakarta, dia masih rutin menghubungiku. Aku masih percaya hubungan jarak jauh bisa terus bertahan. Namun perlahan-lahan, dirinya mulai menghilang, tak ada kabar satupun yang kudengar tentangnya. Baru kuketahui, beberapa saat setelah aku pergi, ternyata dia pun ikut pindah dari kota itu. Dan tidak ada seorangpun yang tahu dimana keberadaannya kini.

Jejak-jejak keberadaannya tak mampu kutemui dimanapun. “Dimana Kakak berada kini?” tanya hatiku. Ditengah isak tangisku, batinku merintih terasa perih. Aku sungguh merindukannya. Setiap malam, hanya sebentuk doa kupanjatkan agar Tuhan menjaga dimanapun dirinya berada. Sebentuk keyakinan masih kumiliki, suatu saat cinta pasti akan membawanya kembali kepadaku.

Cerita ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis bersama Akhi Dirman

02/09/10

Sepenggal Cerita Cinta

Andai kutahu pertemuan kembali denganmu hanya membawa luka pada akhirnya, mungkin hari itu takkan ada niat sedikitpun bagiku untuk datang ke acara reuni sekolah. Jantung terasa begitu terdebar, detik-detik menunggu kau datang terasa begitu lama, ada rindu yang menggeliat dalam dada. Dan akhirnya saat yang ditunggu pun tiba, seulas senyuman dan sebait kata sapa terucap di bibirmu, setelah 10 tahun tanpa kabar kini kudengar lagi suaramu begitu indah di telingaku.

Hari-hariku tak pernah sama lagi sejak itu, hadirmu kembali menyentakkan sanubariku yang tertidur, membuatku terjaga dalam dunia yang pernah kulewati bersamamu. Lembaran-lembaran kisahku pun kembali dimulai bersama denganmu

Dan seperti hilang sadarku, entah pada dunia yang mana ku sedang berpijak. Adakah ini mimpi ? atau hanya khayalku yang membawaku kembali pada kisah cinta pertamaku. Sekejap, kau pun berubah menjadi bagian dalam hidupku. Tiada hari kulewati tanpa bersama denganmu, bahagiaku terurai dalam canda dan tawa bersamamu. Ya, saat itu kuyakin, ada sebuah perjalanan yang indah bersama denganmu sedang menantiku

Namun impian indah itu mulai beranjak pergi, tatkala kau menemukan orang lain untuk berbagi. Dan aku pun tak pernah tahu, apa ada dia sudah di hatimu ketika kita selalu melewati hari-hari bersama ? Hanya sebuah kabar tentang kisah cinta yang mulai terajut antara kau dan dia yang sampai ke telingaku. Hati terus bertanya tentang kebenarannya, namun bibirku kelu untuk bertanya. Memang salahku, tidak semestinya aku berdiri di atas dasar ketidakpastian ini. Karena apabila aku tak cukup kuat untuk bertahan, aku pasti akan jatuh

Hingga tibalah saat-saat perpisahan itu. Airmata ini tak mampu kubendung lagi, ketika akhirnya terucap sebuah kalimat dari bibirmu, “Aku tak memilihmu”, tanpa sebuah kata maaf kau sisipkan yang kudengar darimu, bahwa entah kau sadari atau tidak, kau sudah membiarkan aku jatuh padahal kau tidak berniat untuk menangkapku.

Saat itu hanya mampu melepasmu pergi, hanya mampu menyaksikan dari belakang punggungmu, perlahan namun pasti bayanganmu kian menghilang. Hanya satu pintaku, jangan pernah datang lagi dalam hidupku, meski tak kuingkari pernah ada saat bahagia kau beri ketika bersamamu, namun lembaran kisah itu ingin kututup selamanya. Selamat tinggal cinta pertamaku, tanpa terasa setahun tlah berlalu namun hingga kini belum ada yang mampu menggetarkan kembali dinding-dinding relung hatiku semenjak kau pergi.


Prosa untuk lomba di ceritaeka.com