“Jadi datang ke sini hari ini?” sebuah pesan baru saja kuterima dari ponselku. Padahal baru saja kupejamkan mataku. Gerimis di sore-sore begini makin memperparah rasa kantuk yang memang sudah kutahan dari siang tadi di kantor.
“Maaf, Kak, kayaknya aku nggak jadi datang kesana, sedang hujan di sini,” sebuah jawaban sekaligus alasan yang kuberikan demi memuaskan hasratku untuk melanjutkan kembali tidurku.
“Hmmm, maaf ya,….Kakak nggak punya mobil untuk jemput kamu, cuma ada motor nih”
“Nggak usah, Kak, aku naik taksi aja kalau begitu,” balasku. Untuk apa, pikirku. Tetap saja aku akan kehujanan kalau naik motor.
“Arrrgghhhh….!” batinku menggerutu. Benar-benar nggak mau menyerah, dan membuatku makin merasa tidak enak hati saja.
Rasa kantukku sekejap lenyap, berganti dengan rasa kesal. Dengan langkah gontai, dan setengah hati, akupun bersiap-siap. Akhirnya aku memanggil taksi dan pergi menemuinya.
Itulah pertemuan pertamaku dengannya. Dari seorang teman yang memperkenalkanku dengannya, ketika aku baru pertama kali menginjakkan kaki di kota Manado, aku mengenal dirinya. Sejak itu, ada sebuah perasaan tanpa nama mengalir hangat dalam relung hatiku. Sosoknya memiliki kharisma yang tak dapat kutolak pesonanya.
Kekaguman tanpa batas merubah perasaan tanpa namaku menjadi sebuah “CINTA”. Tanpa kusadari, aku pun mulai terbiasa dengan keberadaannya di sisiku menemani hari-hariku. Perhatian dan rasa sayang darinya, makin membuat jiwaku melekat pada sosok indah dirinya. Kala senja tiba, ketika jam kerja tlah usai adalah waktuku bersama dengannya. Meski hanya untuk sekadar bercanda, bercerita tentang indahnya hari, atau penatnya kesibukan kerja. Sungguh merupakan saat-saat terbaik yang pernah kumiliki bersamanya.
Namun sang waktu berjalan sangat cepat, tanpa terasa masa dinasku selama 1 tahun akan segera berakhir.
“Besok aku harus kembali ke Jakarta, Kak”
“Jam berapa? Secepat itukah?” tanyanya dengan nada yang terdengar berat. “Kapan kamu akan kembali ke sini lagi?”
“Jam 4 sore, entahlah Kak, aku juga nggak tahu….., tapi setiap kali ada kesempatan atau hari libur, aku pasti akan datang lagi ke sini,” janjiku padanya.
“Apa kita bisa berhubungan jarak jauh?"
“Menurut Kakak…? aku juga nggak mau berpisah dengan Kakak seperti ini,” sambil kulingkarkan tanganku dipinggangnya, kubenamkan kepalaku di dadanya. Terasa hangat dan begitu nyaman.
“Baiklah kalau begitu, kita nggak akan berpisah dengan cara seperti ini,” jawaban darinya terasa begitu menyejukkan batinku.
Namun kesedihan tetap saja tergurat jelas di wajahnya. Dan dia hanya diam, malam terasa begitu hening. Seperti saat kita bertemu, gerimis pun seakan mengiringi perpisahan kita. Tak ada lagi kata yang terucap selama perjalanan pulang.
Mataku sembab, sehabis menangis semalam. Jam kini sudah menunjukkan pukul dua siang. Waktunya aku untuk segera bersiap-siap ke bandara. Di teras, dengan penuh harap aku menunggu. Sesungguhnya, betapa hati ini ingin sekali melihatnya datang untuk mengantarku. Namun entah kenapa, sama sekali tidak ada kabar darinya hari ini.
“Ya sudahlah,” pikirku. Mungkin memang saat ini dia sedang sibuk. Meski hati terasa begitu sedih, dan tanpa terasa airmataku pun kembali menetes.
Beberapa bulan pertama sejak kembali ke Jakarta, dia masih rutin menghubungiku. Aku masih percaya hubungan jarak jauh bisa terus bertahan. Namun perlahan-lahan, dirinya mulai menghilang, tak ada kabar satupun yang kudengar tentangnya. Baru kuketahui, beberapa saat setelah aku pergi, ternyata dia pun ikut pindah dari kota itu. Dan tidak ada seorangpun yang tahu dimana keberadaannya kini.
Jejak-jejak keberadaannya tak mampu kutemui dimanapun. “Dimana Kakak berada kini?” tanya hatiku. Ditengah isak tangisku, batinku merintih terasa perih. Aku sungguh merindukannya. Setiap malam, hanya sebentuk doa kupanjatkan agar Tuhan menjaga dimanapun dirinya berada. Sebentuk keyakinan masih kumiliki, suatu saat cinta pasti akan membawanya kembali kepadaku.
aku harap endingnya happy
BalasHapuskakk ikut pindah ke jakarta
:)
Namanya juga fiksi....emang sengaja dibikin terasa menyayat hati...wkwkwk ( lebay.com )
BalasHapus